A.
Aliran Progressivisme
Aliran Progressivisme adalah suatu
aliran yang sangat berpengaruh di abad ke-20 ini. Biasanya aliran
ini dihubungkan dengan pandangan hidup liberal. Aliran progresivisme
mengakui dan berusaha mengembangkan asas progesivisme dalam sebuah realita
kehidupan, agar manusia bisa survive menghadapi semua tantangan hidup.
Dinamakan instrumentalisme, karena aliran ini beranggapan bahwa
kemampuan intelegensi manusia sebagai alat untuk hidup, untuk kesejahteraan dan
untuk mengembangkan kepribadiaan manusia. Dinamakan eksperimentalisme,
karena aliran ini menyadari dan mempraktikkan asas eksperimen untuk menguji
kebenaran suatu teori. Dan dinamakan environmentalisme, Karena aliran
ini menganggap lingkungan hidup itu memengaruhi pembinaan kepribadiaan
(Muhammad Noor Syam, 1987: 228-229). filsafat progesivisme tidak menyetujui pendidikan yang
otoriter.
fisafat
progesivisme menghendaki sis pendidikan dengan bentuk belajar “sekolah sambil
berbuat” atau learning by doing (Zuhairini, 1991: 24).
Sifat-sifat aliran Progressivisme
1) Sifat-sifat
Negatif, dalam artian bahwa, Progressivisme menolak otoritarisme dan absolutisme
dalam segala bentuk, seperti terdapat dalam agama, politik, etika dan
epitemologi.
2) Sifat-sifat
Positif, dalam arti bahwa Progressivisme menaruh kepercayaan terhadap kekuatan
alamiah dari manusia, kekuatan-kekuatan yang diwarisi oleh manusia dari alam
sejak lahir.
Maka tugas pendidikan menurut
pragmatisme, ialah meneliti sejelas-jelasnya kesanggupan-kesanggupan manusia
itu dan menguji kesanggupan-kesanggupan itu dalam pekerjaan praktis.
Perkembangan aliran Progressivisme
Thomas Paine dan Thomas
Jefferson memberikan sumbangan pada pragmatisme karena kepercayaan mereka
akan demokrasi dan penolakan terhadap sikap dogmatis, terutama dalam agama.
Keyakinan-keyakinan Progressivisme tentang pendidikan
John Dewey memandang bahwa pendidikan
sebagai proses dan sosialisasi.
Dengan kata
lain akal dan kecerdasan anak didik harus dikembangkan dengan baik. Perlu
diketahui pula bahwa sekolah tidak hanya berfungsi sebagai pemindahan
pengetahuan (transfer of knowledge), melainkan juga berfungsi sebagai pemindahan
nilai-nilai (transfer of value), sehingga anak menjadi terampildan
berintelektual baik secara fisik maupun psikis. Untuk itulh sekat antara
sekolah dengan masyarakat harus dihilangkan.
B.
Aliran Esensialisme
Aliran esensialisme merupakan aliran
pendidikan yang didasarkan pada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak
awal peradaban umat manusia. Esensialisme muncul pada zaman Renaisance dengan
cirri-cirinya yang berbeda dengan progesivisme. Dasar pijakan aliran ini lebih
fleksibel dan terbuka untuk perubahan, toleran, dan tidak ada keterkaitan
dengan doktrin tertentu. Esensiliasme memandang bahwa pendidikan harus berpijak
pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama, yang meberikan
kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas (Zuhairini,
1991: 21).
Selain itu juga di warnai dengan
pandangan-pandangan dari paham penganut aliran idealisme dan realisme. Imam
Bernadib (1981). menyebutkan
beberapa tokoh utama yang berperan dalam penyebaran aliran esensialisme, yaitu:
1.
Desiderius Erasmus, humananis Belanda yang hidup pada
akhir abad 15 dan permulaan abad 16, yang merupakan tokoh pertama yang menolak
pandangan hidup yang berpijak pada dunia lain.
2.
Johann Amos Comenius yang hidup diseputar tahun 1592-1670,
adalah seorang yang memiliki pandangan realis dan dogmatis. Comenius
berpendapat bahwa pendidikan mempunyai peranan membentuk anak sesuai dengan
kehendak Tuhan, karena pada hakikatnya dunia adalah dinamis dan bertujuan.
3.
Johann Friederich Herbert yang hidup pada tahun 1776-1841,
sebagais alah seorang murid Immanuel Kant yang berpendapat dengan kritis,
herbert berpendapat bahwa tujuan pendidikan adalah menyesuaikan jiwa seseorang
dengan kebajikan dari yang Mutlak dalam arti penyesuaian dengan hukum-hukum
kesusilaan dan inilah yang disebut proses pencapaian tujuan pendidikan oleh
Herbert sebagai ‘pengajaran yang mendidik’.
Tujuan umum aliran esensialisme adalah
membentuk pribadi bahagia di dunia dan hakikat. Isi pendidikannya mencakup ilmu
pengetahuan, kesenian dan segala hal yang mampu menggerakan kehendak manusia.
Kurikulum sekolah bagi esensialisme merupakan semacam miniatur dunia yang bisa
dijadikan sebagai ukuran kenyataan, kebenaran dan kegunaan.
C.
Aliran Perennialisme
Perennialisme diambil dari kata
perennial, yang artinya kekal dan abadi, dari makna yang terkandung dalam kata
itu’ aliran Perennialisme mengandung kepercayaan filsafat yang berpegang teguh
pada nilai-nilai dan norma-norma yang bersifat kekal abadi.
Perenialisme memandang pendidikan
sebagai jalan kembali atau proses mengembalikan keadaan sekarang kepada masa
lampau. Perenialisme memberikan sumbangan yang berpengaruh baik teori maupun
praktik bagi kebudayaan dan pendidikan zaman sekarang (Muhammad Noor Syam,
1986: 154). Dari pendapat ini diketahui bahwa perenialisme merupakan hasil
pemikiran yang memberikan kemungkinan bagi seorang untuk bersikap tegas dan
lurus. Karena itulah, perenialisme berpendapat bahwa mencari dan menemukan arah
tujuan yang jelas merupakan tugas yang utama dari filsafat, khususnya filsafat
pendidikan.
Prinsip-prinsip pendidikan Perennialisme
Di bidang pendidikan,
Perennialisme saangat dipengaruhi oleh: Plato, Aristoteles, dan Thomas Aquinas.
Dalam hal ini pokok pikiran Plato tentang ilmu pengetahuan dan nilai-nilai
adalah manifestasi daripada hukum universal. Maka tujuan utama pendidikan
adalah “ membina pemimpin yang sadar dan mempraktekan asas-asas normatif itu
dalam semua aspek kehidupan.
Menurut Plato, manusia secara
kodrati memiliki tiga potensi, yaitu : nafsu, kemauan, dan pikiran. Bagi
Aristoteles, tujuan pendidikan adalah ‘kebahagiaan”. Untuk mencapai tujuan
pendidikan itu, maka aspek jasmani, emosi, dan intelek harus dikembangkan
secara seimbang.
Seperti halnya Plato dan Aristoteles, tujuan pendidikan
yang diinginkan oleh Thomas Aquinas adalah sebagai “Usaha mewujudkan kapasitas
yang ada dalam individu agar menjadi aktualitas” aktif dan nyata. Dalam hal ini
peranan guru adalah mengajar – memberi bantuan pada anak didik untuk
mengembangkan potensi-potensi yang ada pada dirinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar