Sebelum kita membahas
mengenai pendekatan pendekatan filsafat pendidkan maka kita harus mengetahui
dulu apa itu filsafat dan filsafat pendidikan. Menurut Prof. Mr.Mumahamd Yamin: Filsafat ialah pemusatan pikiran ,
sehingga manusia menemui kepribadiannya seraya didalam kepribadiannya itu
dialamiya kesungguhan. Sedangkan Filsafat pendidikan sebagai filsafat terapan, yaitu studi
tentang penterapan asas-asas pemikiran filsafat pada masalah-masalah pendidikan
pada dasarnya mengenai dua pendekatan yang polarities. setelah mengetahui
pengertian filsafat maka kita akan membahas apa saja pendekatan- pendekatan
filsafat pendidikan itu.
A. PENDEKATAN PROGRESIF
Pendekatan dalam disiplin ilmu yang
disebut filsafat pendidikan akan lebih mudah di pahami arti pengertian bila
diajukan pandangan Dewey tentang pokok masalah, yaitu tentang
permasalahan filsafat pendidikan yang berarti hubungan antara filsafat dan
pendidikan.
Dapat dilihat dari :
1. Antara
Teori dan Praktek
Pada dasarnya antara teori dan
praktek adalah hubungan saling mengontrol, teori akan dikontrol oleh
pelaksanaan praktek yang baik, dan sebaiknya praktek dikontrol oleh atau
didasarkan pada landasan teoritis yang baik Dewey berpendapat bahwa teori harus
merupakan hasil penggalian dalam kenyataan empiris sosiologis yang berlaku saat
itu.
2. Pendekatan
Problematis terhadap kenyataan Sosiologis
Seperti apa yang dipercontohkan pada
saat ia merumuskan teori pendidikannnya, problema social yang dihadapi dengan
cermat dan dengan tepat, merumuskannya kedalam filsafat pendidikannya.
Berdasar atas
kesulitan-kesulitan dan problema yang dihadapi masyarakatnya ia mencoba
merumuskannya kedalam sebuah system pemikiran filosofis, yaitu filsafat
pendidikan problematic atau experimentalisme, dalam bentuk pola mental
intelektual dan sikap moral kesusilaan.
Sikap moral yang dianggapnya tepat untuk
melestarikan kenyataan perubahan social yang cepat diatas adalah nilai sikap
yang menghormati keragaman, pembaharuan, individualitas dan kebebasan inilah
yang disebut dengan pendekatan problematis terhadap kenyataan social yang cepat
berubah.
3. Filsafat dan Teori
Pendidikan
Sebagai pokok pikiran ketiga yang
tersirat dalam catatan diatas adalah hubungan antara filsafat dengan teori
pendidikan. Dan Dewey berkesinambungan bahwa filsafat dirumuskan sebagai teori
pendidikan yang bersifat umum dan konsepsional.
Pendekatan-pendekatan dalam teori pendidikan Pendekatan
dapat dilihat dari dua sisi, yaitu :
1.Pendidikan
sebagai praktek
2.Pendidikan sebagai teori
Pendidikan sebagai praktek yaitu
seperangkat kegiatan atau aktivitas yang dapat diamati dan didasari
dengan tujuan untuk membantu pihak lain ( Baca: peserta didik) agar memperoleh
perubahan prilaku.
Sementara pendidikan sebagai teori yaitu
seperangkat pengetahuan yang telah tersusun secara sistematis yang
berfungsi untuk menjelaskan, menggambarkan, meramalkan, dan mengontrol berbagai
gejala dan peristiwa pendidikan baik yang bersumber dari pengalaman-pengalaman
pendidikan (empiris) maupun hasil perenungan-perenungan yang mendalam untuk
melihat makna pendidikan dalam konteks yang lebih luas. Diantaranya keduanya
memiliki keterkaitan dan tidak bisa dipisahkan. Praktek pendidikan seyogyanya
berlandaskan pada teori pendidikan.
Demikian
pula system pamong dapat dikaitkan dengan nilai dasar kodrat alam, di mana guru
dan pendidikan tiada lebih fungsinya sebagai pamong dari anak didik yang sedang
menjelajahi perkembangan kodrat alamiahnya. System pamong ini didasarkan pada
asas psikologis dalam perkembangan manusia, yaitu kebebasan dan bekerja
sendiri.
Beda antara
Deweysme dengan Herbartianisme maupun Dewantaraisme adalah bahwa kedua terakhir
ini mendasarkan diri pada filsafat tradisional, termasuk cabang filsafat
metafisika, yang mengakui bahwa kenyataan yang bersifat metafisis
transendental.
Tiga bidang
pembangunan serempak. Pokok pikiran keempat adalah masalah pembaharuan social,
yang harus serempak dan searah tujuan dengan pembaharuan pemikiran
filsafat dan sistem pendidikan, sehingga merupakan tiga bidang atau
sektor pembangunan. Sesuai dengan apa yang telah diuraikan pada pokok pikiran
kedua, ketiga bidang pembangunan di atas harus diarahkan pada pengembangan
sikap moral dan mental yang sama dan berjalan serempak, yang satu bidang tidak
boleh mendahului yang lain, apalagi diarahkan ke tujuan yang bertentangan atau
berbeda.
Dengan
demikian dan sesuai dengan pokok pikiran yang kelima, yaitu tenaga pengembang
sosial, dan peninjauan kembali filsafat system tradisional dalam rangka
pembangunan pendidikan, oleh sebab kesamaan arah dan keserempakan pelaksanaannya
dari ketiga bidang pembangunan tersebut merupakan akibat dari sebab-sebab yang
sama, atau faktor-faktor penyebab yang sama, yaitu tenaga pengembangan sosial,
yang terdiri faktor kemajuan ilmu pengetahuan, revolusi industri dan
perkembangan demokrasi.
Gejala
keserempakan dan kesamaan sebagai akibat kesamaan faktor-faktor penyebabnya
dibuktikan dan diperkuat pendapat Dewey tentang rumusan tujuan pendidikannya,
yaitu efesiensi social ( Social efficiency) yang berbunyi “The
Power of join freely and fully in shared or common activities,” yang
artinya kemampuan untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan demi pemenuhan
kepentingan bersama dan kesejahteraan bersama secara maksimal dan bebas.
Sebagai
penghujung yang lain dari pendekatan di atas dan dari kontinuitas aliran
filsafat pendidikan adalah pendekatan progresif kontemporer dengan dasar-dasar
pemikiran, sebagai berikut :
1) Bahwa
dasar-dasar pendidikan adalah sosiologi, atau filsafat sosial humanisme ilmiah,
yang skeptis terhadap kenyataan yang bersifat metafisis transcendental
2) Bahwa
kenyataan adalah perubahan, artinya kenyataan hidup yang essensial adalah
kenyataan yang selalu berubah dan berkembang.
3) Bahwa
“truth is the man-made”, artinya kebenaran dan kebajikan itu adalah kreasi
manusia, dengan sifatnya yang relative temporer bahkan subyektif.
4) Bahwa
tujuan dan dasar-dasar hidup dan pendidikan relative ditentukan oleh
perkembangan tenaga pengembangan social dan manusia, yang merupakan sumber
perkembangan social masyarakat.
5) Bila
antara tujuan dan alat adalah bersifat kontinu, bahwa tujuan dapat menjadi alat
untuk tujuan yang lebih lanjut sesuai dengan perkembangan sosial masyarakat.
Dua pola
dasar pendekatan diatas dapat dibagi menjadi bermacam-macam variasi yang antara
lain seperti : religious philosophy of education, humanistic metaphysical
philosophy of education, humanistic epistemological philoshophy of education,
cultural philosophy or education, social philosophy or education.
B. PENDEKATAN TRADISIONAL
pendekatan
ini berbeda dengan pendekatan progresif secara sederhana dapat dijelaskan
dengan bahwa pada pendekatan mengakui dan mementingkan
dunia sana yang transcendental metafisis yang langgeng, yang
menentukan tujuan hidup dan sekaligus tujuan pendidikan manusia, sehingga akan
menjadi sumber-sumber dasar nilai daripada filsafat pendidikannya. Sedang
tenaga social hanya akan menyediakan saranan, alat dengan mana akan dicapai
tujuan-tujuan diatas, dengan kata lain tenaga pengembangan social ini akan
memberikan modal dalam penyusunan “ Science of educational” yang diperlukan.
Menurut pendekatan tradisional antara filsafat pendidikan dan science of
education dibedakan secara tegas, yaitu filsafat metafisika dan tenaga social,
sedang pada pendekatan progresif keduanya bersumber pada kenyataan yang
sama, dan satu-satunya, yaitu tenaga pengembang sosial masyarakat diatas.
Maka dari itu pendekatan
progresif hanya berpijak pada teori etika social dan metode penyesuaian
masalah social, yaitu pola dasar sikap moral dan pola dasar sikap mental
seperti diuraikan diatas, dan menentang segala hal yang berkaitan tentang
kenyataan transcendental metafisis yang spiritual dan di dunia sana di masa
mendatang. Sebaliknya pendekatan-pendekatan tradisional, seperti namanya,
sangat taat pada sistematika filsafat tradisional, dimana dan karena itu
menempatkan filsafat sebagai dasar pendidikan dan pengajaran. Ini terbukti
dengan penempatan filsafat metafisika, yang sangat ditentang oleh aliran
pendekatan progresif, sebagai masalah pokok dalam filsafat pendidikan.
Bagi pendekatan ini,
betapapun sulitnya masalah bidang metafisika ini, tetap harus ditempatkan
sebagai pusat perhatian pertama dan utama dalam setiap pembahasan filsafat
pendidikan. Pendekatan ini berasumsi dasar bahwa tidak dapat dipungkiri, bahwa
masalah ini adalah masalah yang abstrak, dan universal sekali, sehingga sulit dipelajari
dan dibuktikan kenyataannya, namun tidak berarti bahwa kenyataan yang metafisis
itu tidak ada. Assumsi ini menurut para pengusaha ilmu filsafat pendidikan agar
apabila kita tidak dapat menemukan segala hal yang bersifat metafisis, tidak
berarti kenyataan itu tidak ada, tetapi kesalahan mungkin terletak pada
cara-cara mencarinya atau mungkin keterbatasan kemampuan berfikir dan pikiran
orang yang melakukannya. Atau mungkin orang tersebut, mendustai dirinya, sadar
akan kenyataan tersebut tetapi tidak jujur terhadap kesadarannya sendiri.
Asas pertama tentang
rasionalitas manusia, asas ilmu jiwa daya, asas pembentukan formal teoritis dan
asa transfer hasil belajar maka menuntut jumlah dan jenis mata pelajaran yang
diperlukan, dan tidak perlu adanya pertimbangan kesesuaian tidaknya dengan
kenyataan kehidupan social anak, selama bahan atau bidang studi akan memberikan
nilai disiplin mental atau formal yang tinggi. Nilai formal matematika adalah
untuk melatih anak berfikir secara logis rasional matematis, dan bukan
dengan tujuan untuk memberikan kepada alat atau instrument dalam menyelesaikan
problema hitung-menghitung dalam kehidupan sehari-hari.
Asas kedua adalah bahwa
hakekat jiwa manusia adalah tersendiri atas daya-daya jiwa yang berbeda dan
bekerja secara terpisah-pisah atau bersama-sama, yang menimbulkan gejala
kesadaran atau tingkah laku. Setiap daya-daya jiwa seperti pengindraan,
pengamatan,ingatan, tanggapan, pikiran, dan perasaan akan dapat berkembang dan
atau dikembangkan sesuai dengan bahan-bahan pelajaran tertentu. Berdasar jalan
pemikiran ini, maka dalam kepustakaan pendidikan dan psikologi pendidikan kita
dikenalkan konsep istilah mata pelajaran ingatan, pikiran, hafalan, ekspressi
dan mata pelajaran keterampilan.
Sebagai asas ketiga dan
sesuai dengan asas kedua di atas, adalah bahwa nilai fungsional mata pelajaran
adalah untuk pembentukan, atau disiplin mental (mental discipline) atau
disiplin formal, yaitu nilai formal teoritis intelektual. Sehingga semakin
sulit bahan pelajaran semakin tinggi nilai pembentukan mentalnya.Semakin keras
ketat latihan-latihan semakin kuat dan besar nilai pembentukannya. Apakah bahan
yang disajikan sesuai dengan kehidupan sosialnya, dan digunakan untuk
mengadakan penyesuaian diri terhadap lingkungannya, tidak menjadi masalah bagi
aliran ini.
Oleh
sebab itu, aliran tersebut diselesaikan dengan memperkenalkan konsep trnasfer
of learning of training, artinya penggunaan atau pemindahan hasil belajar
atau latihan pada mata pelajaran atau bidang kehidupan, yang mungkin positif
atau negatif merugikan. Transfer positif adalah apabila penggunaan bidang yang
satu mempermudah, memperlancar penguasaan bidang atau mata pelajaran yang lain,
dan sebaliknya transfer negatif adalah suatu peristiwa dimana penguasaan satu
bidang tertentu mempersulit penguasaan bidang lain, seperti berenang dengan
sepak bola. Soal-soal hitungan yang amat sulit tetapi yang tidak ada kaintannya
dengan, atau tidak akan dijumpai dalam kehidupan sehari-hari anak, yang
mengarah ke pengembangan nilai materiil praktis, dijejal-jejalkan kepada anak
dengan harapan akan mempermudah anak menyelesaikan problema-problema sosialnya.
Adapun asas-asas
filsafat pendidikan dalam pendekatan tradisional secara rinci adalah sebagai
berikut :
1) Bahwa
dasar-dasar pendidikan adalah filsafat, sehingga untuk mempelajari filsafat
pendidikan haruslah memiliki pengetahuan dasar tentang filsafat
2) Bahwa
kenyataan yang essensial baik dan benar adalah kenyataan yang tetap, kekal dan
abadi.
3) Bahwa
nilai norma yang benar adalah nilai yang absolut, universal dan objektif.
4) Bahwa
tujuan yang baik dan benar menentukan alat dan saranan, artinya tujuan yang
baik harus dicapai dengan alat sarana yang baik pula.
5) Bahwa
faktor pengembang sejarah atau sosial (science, technology, democracy dan
industry) adalah sarana alat untuk ” prosperity of life” dan bukannya
untuk ”welfare of life” sebagai tujuan hidup dan pendidikan sebagaimana yang
ditentukan oleh filsafat.
Dari isi pembahasan yang telah
diuraikan dapat disimpulkan bahwa dalam masalah filsafat pendidikan diperlukan
pendekatan-pendekatan dari filsafat pendidikan itu sendiri diantaranya:
- Pendekatan
Progresif
- Pendekatan
Tradisional
Daftar
pustaka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar