1.
Sumber Pengetahuan
Semua orang mengakui memiliki
pengetahuan. Namun dari mana pengetahuan itu diperoleh atau lewat apa
pengetahuan itu di dapat. Dari sana timbul pertanyaan bagaimana kita memperoleh
pengetahuan atau dari mana sumber pengetahuan didapat. Sebelum membahas
sumber pengetahuan, terlebih dahulu mengetahui tentang
hakikat pengetahuan. Pengetahuan pada dasarnya adalah keadaan mental.
Mengetahui sesuatu adalah menyusun pendapat tentang suatu objek, dengan kata
lain menyusun gambaran tentang fakta yang ada diluar akal. Persoalannya
kemudian adalah apakah gambar itu sesuai dengan fakta atau tidak? Apakah
gambaran itu benar? Atau apakah gambaran itu dekat dengan kebenaran atau jauh
dari kebenaran?
Ada dua teori untuk mengetahui
hakikat pengetahuan, yaitu:
a. Realisme
Teori ini mempunyai pandangan
realistis terhadap alam. Pengetahuan menurut realisme adalah gambaran atau copy
yang sebenarnya dari apa yang ada dalam alam nyata (dari fakta atau hakikat).
Pengetahuan atau gambaran yang ada dalam akal adalah copy dari yang asli yang
ada di luar akal. Hal ini tidak ubahnya seperti gambaran yang terdapat dalam
foto. Dengan demikian, realisme berpendapat bahwa pengetahuan adalah
benar dan tepat bila sesuai dengan kenyataan.
b. Idealisme
Idealisme adalah menegaskan
bahwa untuk mendapatkan pengetahuan yang benar-benar sesuai dengan kenyataan
adalah mustahil. Pengetahuan adalah proses-proses mental atau proses psikologis
yang bersifat subjektif. Oleh karena itu, pengetahuan
bagi seorang idealis hanya merupakan gambaran subjektif dan bukan gambaran
objektif tentang realitas. Subjektif dipandang sebagai suatu yang mengetahui,
yaitu dari orang yang membuat gambaran tersebut. Karena itu, pengetahuan
menurut teori ini tidak menggambarkan hakikat kebenaran. Yang diberikan
pengetahuan hanyalah gambaran menurut pendapat atau penglihatan orang yang
mengetahui atau (subjek)
Setelah kita me ngetahui
tentang hakikat pengetahuan dan pemaparan kedua madzhab yang menjelaskan
hakikat ilmu itu sendiri, maka yang menjadi pertanyaan lanjutan adalah dari
mana pengetahuan itu bersumber? Pengetahuan yang ada pada kita diperoleh dengan
menggunakan berbagai alat yang merupakan sumber pengetahuan tersebut. Dalam
hal ini ada beberapa pendapat tentang sumber pengetahuan:
1. Empirisme
Kata ini berasal dari kata Yunani empeirikos, artinya pengalaman. Menurut
aliran ini manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalamannya. Dan bila
dikembalikan kepada kata Yunaninya, pengalaman yang dimaksud ialah
pengalaman inderawi.
Dengan inderanya,
manusia dapat mengatasi taraf hubungan yang semata-mata fisik dan
masuk ke dalam medan intensional, walaupun masih sangat sederhana. Indera
menghubungkan manusia dengan
hal-hal konkret-material. Pengetahuan inderawi bersifat parsial. Itu
disebabkan oleh adanya perbedaan antara indra yang satu dengan indra yang
lainnya, berhubungan dengan sifat khas fisiologis indera dan dengan objek yang
dapat ditangkap sesuai dengannya. Masing-masing indra menangkap aspek yang
berbeda mengenai barang atau makhluk yang menjadi objeknya. Jadi pengetahuan
inderawi berada menurut perbedaan indera dan terbatas pada sensibilitas
organ-organ tertentu.
2. Rasionalisme
Aliran ini menyatakan bahwa akal adalah dasar kepastian pengetahuan.
Pengetahuan yang benar diperoleh dan diukur dengan akal. Manusia memperoleh
pengetahuan melalui kegiatan menangkap objek. Dalam penyusunan ini akal
menggunakan konsep-konsep rasional atau ide-ide universal. Konsep tersebut
mempunyai wujud dalam alam nyata yang bersifat universal. Yang dimaksud dengan
prinsip-prinsip universal adalah abstraksi dari benda-benda kongkret, seperti
hukum kausalitas atau gambaran umum tentang benda tertentu. Kaum rasionalis
yakin bahwa kebenaran hanya dapat ada di
dalam pikiran kita dan hanya dapat diperoleh dengan akal budi saja.
3. Intuisi
Intuisi merupakan pengetahuan yang didapatkan
tanpa melalui proses penalaran tertentu. Seseorang yang sedang terpusat
pemikirannya pada suatu masalah dan tiba-tiba saja menemukan jawaban atas
permasalahan tersebut. Tanpa melalui proses berfikir yang berliku-liku
tiba-tiba saja dia sudah sampai disitu. Jawaban atas permasalahan yang sedang
dipikirkannya muncul dibenaknya bagaikan kebenaran yang membukakan pintu.
Atau bisa juga, intuisi ini bekerja dalam keadaan yang tidak sepenuhnya sadar,
artinya jawaban atas suatu permasalahan ditemukan tidak tergantung waktu orang
tersebut secara sadar sedang
menggelutnya. Namun intuisi ini bersifat personal dan tidak bisa diramalkan.
Sebagai dasar untuk menyusun pengetahuan secara teratur maka intuisi ini tidak bisa diandalkan.
4. Wahyu
Wahyu merupakan pengetahuan yang disampaikan oleh
Tuhan kepada manusia. Pengetahuan ini disalurkan oleh nabi-nabi yang diutusnya
sepanjang zaman. Agama merupakan pengetahuan bukan saja mengenai kehidupan sekarang yang terjangkau pengalaman, namun juga
mencakup masalah-masalah yang bersifat transedental seperti latar
belakang penciptaan manusia dan hari kemudian di akhirat nanti. Pengetahuan ini
didasarkan kepada kepercayaan akan hal-hal yang ghaib (supernatural).
Keparcayaan kepada Tuhan yang merupakan sumber pengetahuan, kepercayaan kepada
nabi sebagai perantara dan kepercayaan terhadap wahyu sebagai cara
penyampaian,merupakan dasar dari penyusunan pengetahuan ini. Kepercayaan
merupakan titik tolak dalam agama. Suatu pernyataan harus dipercaya dulu
untuk dapat diterima: pernyataan ini bisa saja selanjutnya dikaji dengan
metode lain.
2. Kriteria Kebenaran
Berfikir merupakan suatu kegiatan untuk menemukan pengetahuan yang benar.
Apa yang disebut benar bagi seseorang belum tentu benar bagi orang lain. Karena
itu, kegiatan berfikir adalah usaha untuk menghasilkan pengetahuan yang
benar itu atau kriteria kebenaran. Pada setiap jenis pengetahuan tidak sama
kriteria kebenarannyakarena sifat dan watak pengetahuan itu berbeda.
Pengetahuan alam metafisika tentunya tidak sama dengan pengetahuan tentang alam
fisik. Alam fisik pun memiliki perbedaan ukuran kebenaran bagi
setiap jenis dari bidang pengetahuan. Problem kebenaran inilah yang memacu
tumbuh dan berkembangnya epistemologi. Telaah epistemologi terhadap kebenaran
membawa orang kepada sesuatu kesimpulan bahwa perlu dibedakan adanya tiga jenis
kebenaran, yaitu kebenaran epistemologi, kebenaran ontologis, dan kebenaran
semantis. Kebenaran epistemologis adalah kebenaran yang berhubungan dengan
pengetahuan manusia, kebenaran dalam arti ontologis adalah kebenaran sebagai
sifat dasar yang melekat pada hakikat segala sesuatu yang ada atau
diadakan. Kebenaran dalam arti semantik adalah kebenaran yang terdapat serta
melekat dalam tutur kata dan bahasa
Namun, dalam pembahasan ini
dibahas kebenaran epistemologis karena kebenaran yang lainnya secara inheren
akan masuk dalam kategori kebenaran epistemologis. Teori yang menjelaskan
epistemologis adalah sebagai berikut :
a. Teori korespondensi
Menurut teori korespondensi, kebenaran atau keadaan benar itu apabila ada
kesesuaian antara arti yang dimaksud oleh suatu pernyataan atau pendapat dengan
objek yang dituju oleh pernyataan atau pendapat tersebut. Dengan demikian,
kebenaran epistemologis adalah kemanunggalan antara subjek dan objek.
Pengetahuan ini dikatakan benar apabila didalam kemanunggalan yang sifatnya
intrinsik, intensional, dan pasif-aktif terdapat kesesuaian antara apa yang ada
didalam objek. Hal itu karena puncak dari proses kognitif manusia terdapat
di dalam budi pikiran subjek itu benar
sesuai dengan apa yang ada di dalam objek. Suatu proposisi atau
pengertian adalah benar apabila terdapat suatu fakta yang diselaraskannya,
yaitu apabila ia menyatakan apa adanya. Kebenaran itu adalah yang bersesuaian dengan
fakta, yang berselaras dengan realitas, yang serasi dengan situasi
aktual. Dengan demikian, kebenaran dapat didefinisikan sebagai kesetiaan
pada realitas objektif . yaitu, suatu pernyataan yang sesuai dengan fakta atau
sesuatu yang selaras dengan situasi. Kebenaran adalah persesuaian antara
pernyataan mengenai fakta dengan fakta aktual: atau antara putusan dengan
situasi seputar yang diberi interpretasi. Mengenai teori korespondensi
tentang kebenaran dapat disimpulkan sebagai berikut : Dua hal yang sudah
diketahui sebelumnya, yaitu pernyataan dan kenyataan. Menurut teori ini,
kebenaran adalah kesesuaian antara pernyatan tentang sesuatu dengan kenyataan
sesuatu itu sendiri. Sebagaimana contoh dapat dikemukakan : «Jakarta adalah ibu
kota Republik Indonesia ». pernyataan ini disebut benar karena kenyataannya
Jakarta memang Ibukota Republik Indonesia. Kebenarannya terletak pada hubungan antara pernyataan dengan kenyataan. Adapun jika
dikatakan Bandung adalah ibukota Republik Indonesia, pernyataan itu salah karena
tidak sesuai antara pernyataan dengan kenyataan. Suatu proposisi itu
cendrung untuk benar jika proposisi itu saling berhubungan dengan
proposisi-proposisi lain yang benar, atau jika arti yang dikandung oleh
proposisi yang saling berhubungan dengan pengalaman kita. Kepastian mengenai
kebenaran sekurang-kurangnya memiliki empat pengertian, dimana satu keyakinan
tidak dapat diragukan kebenarannya, sehingga disebut pengetahuan. Pertama,
pengertian yang bersifat psikologis. Kedua, pengertian yang bersifat logis.
Ketiga, menyamakan kepastian dengan keyakinan yang tidak dapat dikoreksi.
Keempat, pengertian akan kepastian yang digunakan dalam pembicaraan umum,
dimana hal itu diartikan sebagai kepastian yang yang didasarkan pada nalar
yang tidak dapat diragukan atau dianggap salah.
b. Teori pragmatisme Tentang
kebenaran
Teori selanjutnya adalah teori pragmatisme tentang kebenaran. Pragmatisme
berasal dari bahasa yunani pragma, artinya yang dikerjakan, yang dilakukan,
perbuatan, tindakan, sebutan bagi filsafat yang dikembangkan oleh Wiliam
James di Amerika Serikat. Menurut filsafat ini benar tidaknya suatu ucapan,
dalil, atau teori semata-mata bergantung kepada asas manfaat. Sesuatu dianggap
benar jika mendatangkan manfaat.
Menurut teori pragmatisme,
suatu kebenaran dan suatu pernyataan diukur dengan kriteria apakah
pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan manusia. Teori,
hipotesa atau ide adalah benar apabila ia membawa kepada akibat yang memuaskan,
apabila ia berlaku dalam praktik, apabila ia mempunyai nilai praktis. Kebenaran
terbukti oleh kegunaannya, oleh hasilnya, dan oleh akibat-akibat praktisnya. Jadi kebenaran ialah apa
saja yang berlaku.
c.
Agama Sebagai Teori Kebenaran
Manusia adalah makhluk pencari kebenaran. Salah satu
cara untuk menemukan suatu kebenaran adalah melalui agama. Agama dengan karakteristiknya sendiri memberikan jawaban atas segala persoalaan
asasi yang dipertanyakan manusia; baik tentang alam, manusia, maupun
tentang tuhan. Kalau ketiga teori kebenaran sebelumnya lebih mengedepankan
akal, budi, rasio, dan reason manusia,
dalam agama yang dikedepankan adalah wahyu yang bersumber dari
Tuhan. Suatu hal itu dianggap benar apabila sesuai dengan ajaran agama atau
wahyu sebagai penentu kebenaran mutlak. Oleh karena itu, sangat wajar ketika
Imam al-Ghazali merasa tidak puas dengan penemuan-penemuan akalnya dalam
mencari suatu kebenaran. Akhirnya al-Ghazali sampai pada kebenaran yang
kemudian dalam tasawuf setelah dia mengalami proses yang panjang. Tasawuf lah
yang menghilangkan keragu-raguan tentang segala sesuatu. Kebenaran menurut
agama inilah yang dianggap oleh kaum sufi sebagai kebenaran multak; yaitu
kebenaran yang sudah tidak dapat diganggu gugat lagi. Namun al-Ghazali tetap
merasa kesulitan menentukan kriteria kebenaran. Akhirnya kebenaran yang didapat
adalah kebenaran sujektif atau inter-subjektif
Tidak ada komentar:
Posting Komentar