Kritisisme
diserap dari term critique yang diartikan kupasan atau
tinjauan bukan berasal dari term criticism yang diartikan
kecaman dan juga diartikan kupasan. Kritik yang dimaksud oleh Kant di sini
adalah pembahasan Kritis. Kritik, berasal dari bahasa Latin, criticus, kemelut,
bersifat menentukan, kritik, penilaian; bahasa Yunani, kritike, pemisahan; krinoo,
mempertimbangkan, memutuskan, menyatakan pendapat. Dalam arti umum, penggunaan
atau keterlibatan dalam penilaian atau pertimbangan yang berhati-hati;
penilaian atau tinjauan yang dilakukan dengan cermat dan hati-hati.
Kritisisme adalah sebuah kesimpulan perjalanan panjang pengembaraan
Immanuel Kant yang diawali dengan ketertarikan dia kepada Rasionalisme, namun
pada perkembangan pencariannya dalam ilmu pengetahuan, Kant kemudian mendalami
teori empirisme yang dikembangkan oleh David Dume (1711-1776). Dua aliran
pemikiran yang bertentangan secara ekstrim. Rasionalisme mengira telah
menemukan kunci bagi pembukaan realitas pada diri subyeknya, lepas dari
pengalaman. Adapun empirisme mengira telah memperoleh pengetahuan dari
pengalamannya saja.
Kritisisme berusaha mempertemukan dua arus pemikiran tersebut
dengan memberi ruang yang sama dalam membangun kerangka ilmu pengetahuan.
Kant mempertemukan keduanya dan mewarnai keduanya dengan keyakinan agama yang
dianut oleh Kant. Salah satu indikasinya adalah ajaran moral yang diyakini
aliran ini. Menurut Kritisisme, suatu tindakan itu baik bukan karena
tindakan tersebut menghasilkan hasil yang baik atau menguntungkan, atau karena
tindakan itu bijak. Tindakan dilakukan karena merupakan kepatutan kepada
perintah kalbu, hokum moral yang baku yang bukan datang dari
pengalaman inderawi.
Isi utama dari kritisisme adalah gagasan Immanuel Kant tentang teori
pengetahuan, etika, dan estetika. Gagasan ini muncul karena adanya
pertanyaan-pertanyaan mendasar yang timbul pada pikiran Immanuel Kant.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah; 1. Apa yang dapat saya ketahui?, 2. Apa
yang harus saya ketahui?, dan 3. Apa yang boleh saya
harapkan.
Ciri-ciri
kritisisme dapat disimpulkan pada tiga hal;
1. Menganggap bahwa obyek
pengenalan itu berpusat pada subjek dan bukan pada objek.
2. menegaskan
keterbatasan kemampuan rasio manusia untuk mengetahui realitas atau hakikat
sesuatu; rasio hanyalah mampu menjangkau gejalanya atau penomenanya saja;
3. Menjelaskan bahwa
pengenalan manusia atas sesuatu itu diperoleh atas perpaduan antara peranan
unsur Anaximenes priori yang berasal dari rasio serta berupa ruang dan waktu
dan peranan unsur aposteriori yang berasal dari pengalaman materi.[12]
Ahmad,
Filsafat.2006. Ilmu: Mengurai Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi
Pengetahuan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Echol,
M. dan Hasan Sadily. 1996. Kamus Inggris Indonesia. Jakarta: Gramedia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar