Kamis, 22 Desember 2016

ALIRAN KRITISISME



Kritisisme diserap dari term critique yang diartikan kupasan atau tinjauan bukan berasal dari term criticism yang diartikan kecaman dan juga diartikan kupasan. Kritik yang dimaksud oleh Kant di sini adalah pembahasan Kritis. Kritik, berasal dari bahasa Latin, criticus, kemelut, bersifat menentukan, kritik, penilaian; bahasa Yunani, kritike, pemisahan; krinoo, mempertimbangkan, memutuskan, menyatakan pendapat. Dalam arti umum, penggunaan atau keterlibatan dalam penilaian atau pertimbangan yang berhati-hati; penilaian atau tinjauan yang dilakukan dengan cermat dan hati-hati.
            Kritisisme adalah sebuah kesimpulan perjalanan panjang pengembaraan Immanuel Kant yang diawali dengan ketertarikan dia kepada Rasionalisme, namun pada perkembangan pencariannya dalam ilmu pengetahuan, Kant kemudian mendalami teori empirisme  yang dikembangkan oleh David Dume (1711-1776). Dua aliran pemikiran yang bertentangan secara ekstrim. Rasionalisme mengira telah menemukan kunci bagi pembukaan realitas pada diri subyeknya, lepas dari pengalaman. Adapun empirisme mengira telah memperoleh pengetahuan dari pengalamannya saja.
            Kritisisme berusaha mempertemukan dua arus pemikiran tersebut dengan  memberi ruang yang sama dalam membangun kerangka ilmu pengetahuan. Kant mempertemukan keduanya dan mewarnai keduanya dengan keyakinan agama yang dianut oleh Kant. Salah satu indikasinya adalah ajaran moral yang diyakini aliran ini. Menurut Kritisisme, suatu  tindakan itu baik bukan karena tindakan tersebut menghasilkan hasil yang baik atau menguntungkan, atau karena tindakan itu bijak. Tindakan dilakukan karena merupakan kepatutan kepada perintah kalbu, hokum moral yang baku yang bukan datang dari pengalaman inderawi.
            Isi utama dari kritisisme adalah gagasan Immanuel Kant tentang teori pengetahuan, etika, dan estetika. Gagasan ini muncul karena adanya pertanyaan-pertanyaan mendasar yang timbul pada pikiran Immanuel Kant. Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah; 1. Apa yang dapat saya ketahui?, 2. Apa yang harus saya ketahui?, dan    3. Apa yang boleh saya harapkan.
Ciri-ciri kritisisme dapat disimpulkan pada tiga hal;
1.      Menganggap bahwa obyek pengenalan itu berpusat pada subjek dan bukan pada objek.
2.      menegaskan keterbatasan kemampuan rasio manusia untuk mengetahui realitas atau hakikat sesuatu; rasio hanyalah mampu menjangkau gejalanya atau penomenanya saja;
3.      Menjelaskan bahwa pengenalan manusia atas sesuatu itu diperoleh atas perpaduan antara peranan unsur Anaximenes priori yang berasal dari rasio serta berupa ruang dan waktu dan peranan unsur aposteriori yang berasal dari pengalaman materi.[12]

Ahmad,  Filsafat.2006. Ilmu: Mengurai Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Pengetahuan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Echol, M. dan Hasan Sadily. 1996. Kamus Inggris Indonesia. Jakarta: Gramedia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar