Supaya bisa
menentukan apakah kebenaran absolut/kebenaran universal itu ada, pertama-tama
kita perlu mendefinisikan apa itu kebenaran. Kebenaran didefinisikan
“kesesuaian dengan fakta atau yang sebenarnya; pernyataan yang terbukti atau
diterima sebagai benar; kenyataan atau keadaan yang sebenarnya.” Sebagian orang
mengatakan bahwa tidak ada realita sebenarnya, tapi hanyalah persepsi dan
opini. Di sisi lain, ada pihak yang percaya adanya realita absolut atau
kebenaran absolut. Karena itu, ketika mempertimbangkan pertanyaan apakah ada
yang dapat disebut sebagai kebenaran absolut, kita menemukan dua pendapat yang bertolak
belakang. Pendapat yang satu mengatakan bahwa tidak mungkin ada apapun yang
secara absolut bisa mendefinisikan realita. Mereka percaya bahwa segala sesuatu
itu bersifat relatif dan karena itu tidak ada realitas yang sejati. Karena itu,
pada hakekatnya tidak ada otoritas apapun yang bisa menentukan suatu tindakan
itu positif atau negatif, benar atau salah.
Sebaliknya, pandangan lain percaya realita atau standar absolut yang bisa menentukan apa yang benar dan tidak itu benar-benar ada. Satu tindakan dapat dikategorikan benar atau salah dengan membandingkannya terhadap standar-standar yang absolut itu. Dapatkah Saudara membayangkan kekacauan yang terjadi kalau tidak ada standar yang absolut ataupun realita?
Sebaliknya, pandangan lain percaya realita atau standar absolut yang bisa menentukan apa yang benar dan tidak itu benar-benar ada. Satu tindakan dapat dikategorikan benar atau salah dengan membandingkannya terhadap standar-standar yang absolut itu. Dapatkah Saudara membayangkan kekacauan yang terjadi kalau tidak ada standar yang absolut ataupun realita?
Ambil contoh
hukum gravitasi. Kalau yang absolut itu tidak ada, maka Saudara ketika berjalan
bisa tahu-tahu terlempar tinggi ke udara pada satu waktu, tapi pada waktu
lainnya bisa terbang melayang-layang. Tidak ada hukum-hukum sains ataupun
hukum-hukum fisika sama sekali dalam dunia ini.
Segala sesuatu tidak ada artinya, karena tidak ada ukuran mengenai apapun; tidak ada benar dan salah. Betapa kacaunya kalau itu benar-benar terjadi. Tapi, syukurlah kebenaran yang absolut itu ada. Karena itu, ia dapat ditemukan dan dipahami. Tidak logis membuat pernyataan seperti itu karena pernyataan yang absolut justru dipakai untuk menolak fakta mengenai keberadaan yang absolut. Pada dasarnya, pernyataan yang menyatakan tidak adanya kebenaran absolut telah menjadi kebenaran absolut.
Ada beberapa masalah logis yang harus dijawab seseorang sebelum ia bisa menerima dan percaya kalau tidak ada kebenaran absolut/kebenaran universal.
Segala sesuatu tidak ada artinya, karena tidak ada ukuran mengenai apapun; tidak ada benar dan salah. Betapa kacaunya kalau itu benar-benar terjadi. Tapi, syukurlah kebenaran yang absolut itu ada. Karena itu, ia dapat ditemukan dan dipahami. Tidak logis membuat pernyataan seperti itu karena pernyataan yang absolut justru dipakai untuk menolak fakta mengenai keberadaan yang absolut. Pada dasarnya, pernyataan yang menyatakan tidak adanya kebenaran absolut telah menjadi kebenaran absolut.
Ada beberapa masalah logis yang harus dijawab seseorang sebelum ia bisa menerima dan percaya kalau tidak ada kebenaran absolut/kebenaran universal.
Masalah pertama terkait
kontradiksi dengan dirinya sendiri. Hal ini dapat disimpulkan dari pertanyaan
di atas. Mereka yang bersikeras tidak ada yang absolut, pada kenyataannya sudah
percaya pada hal-hal yang absolut. Mereka
yakin secara mutlak bahwa tidak ada yang mutlak. Filsafat semacam ini telah mengalahkan
dirinya sendiri dan bertentangan dengan dirinya sendiri. Pernyataan bahwa tidak
ada sesuatu apa pun yang absolut ini sama saja bertentangan dengan apa yang
mereka yakini
Masalah kedua dengan penolakan atas keberadaan absolut/kebenaran universal ini terkait fakta bahwa semua orang memiliki pengetahuan yang terbatas. Sebagai manusia dengan pengetahuan yang terbatas, kita tidak dapat secara logis membuat pernyataan negatif yang absolut.
Masalah kedua dengan penolakan atas keberadaan absolut/kebenaran universal ini terkait fakta bahwa semua orang memiliki pengetahuan yang terbatas. Sebagai manusia dengan pengetahuan yang terbatas, kita tidak dapat secara logis membuat pernyataan negatif yang absolut.
Masalah
ketiga dengan penolakan atas keberadaan kebenaran absolut/kebenaran universal
terkait fakta bahwa hal itu tidak sesuai dengan apa yang kita ketahui melalui
hati nurani, pengalaman, dan apa yang kita lihat dalam “dunia yang nyata.” Kalau
tidak ada kebenaran absolut, maka tidak ada yang betul-betul salah atau benar
mengenai apapun. Apa yang mungkin “benar bagi Saudara” tidak berarti “benar
bagi saya.” Secara sekilas, pemikiran relativisme semacam ini terdengar sangat
menarik. Tapi, kalau ini diteruskan sampai tahap penarikan kesimpulan yang
logis, akhirnya hanya akan terbukti menimbulkan kekacauan. Coba pertimbangkan
kalau tidak ada kebenaran absolut dan segala sesuatu itu relatif (tidak ada
standar apapun). Setiap orang akan menentukan peraturannya sendiri dan
melakukan apa pun yang mereka anggap benar. Ini menimbulkan masalah ketika apa
yang dipandang benar oleh seseorang bertentangan dengan apa yang dipandang
benar oleh orang lain. Contohmua saya beranggapan bahwa mencuri dari Saudara
itu baik, meskipun Saudara beranggapan itu tidak baik. Seseorang bisa saja
memutuskan bahwa membunuh orang itu boleh-boleh saja, dan kemudian mulai
berusaha membunuh semua orang yang mereka temui. Jika tidak ada standar yang
absolut, ketika tidak ada kebenaran dan segala sesuatu bersifat relatif, maka
membunuh semua orang itu sama benarnya dengan tidak membunuh semua orang.
Mencuri sama benarnya dengan tidak mencuri. Kejam itu sama saja dengan tidak
kejam. Betapa bahayanya akibat yang timbul dari penolakan atas keberadaan
kebenaran absolut. Kalau tidak ada kebenaran absolut, maka tidak ada seorang
pun yang boleh mengatakan, “Kamu harus melakukan ini” atau “Kamu tidak boleh
melakukan itu.” Kalau tidak ada kebenaran absolut, bahkan pemerintah sendiri
tidak dapat atau tidak boleh memaksakan peraturan pada masyarakat. Dapatkah
Saudara melihat masalah yang akan terjadi? . Kekacauan akan terjadi ketika
setiap orang melakukan apa yang benar menurut pandangannya sendiri. Jika tidak
ada kebenaran mutlak, maka tidak ada standar benar atau salah yang harus dipertanggungjawabkan
seseorang. Kita tidak akan pernah merasa
pasti mengenai apapun. Setiap orang bebas melakukan apa saja yang mereka
inginkan – membunuh, memperkosa, mencuri, berbohong, menipu. Tidak ada seorang
pun yang dapat mengatakan itu salah. Tidak akan ada pemerintah, hukum, dan keadilan,
karena tidak ada seorang pun yang bisa mengatakan bahwa mayoritas berhak
membuat dan memaksakan hukum kepada minoritas. Dunia tanpa kemutlakan merupakan
dunia yang mengerikan. Zaman sekarang, kita sering mendengar kalimat, “Itu
mungkin benar bagimu, tapi tidak untuk saya.” Bagi mereka yang berpandangan
bahwa tidak ada kebenaran absolut, kebenaran dipandang tidak lebih dari sekedar
pilihan pribadi atau sebuah sudut pandang saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar