Minggu, 11 Desember 2016

Apakah kebenaran absolut/kebenaran universal itu ada?



Supaya bisa menentukan apakah kebenaran absolut/kebenaran universal itu ada, pertama-tama kita perlu mendefinisikan apa itu kebenaran. Kebenaran didefinisikan “kesesuaian dengan fakta atau yang sebenarnya; pernyataan yang terbukti atau diterima sebagai benar; kenyataan atau keadaan yang sebenarnya.” Sebagian orang mengatakan bahwa tidak ada realita sebenarnya, tapi hanyalah persepsi dan opini. Di sisi lain, ada pihak yang percaya adanya realita absolut atau kebenaran absolut. Karena itu, ketika mempertimbangkan pertanyaan apakah ada yang dapat disebut sebagai kebenaran absolut, kita menemukan dua pendapat yang bertolak belakang. Pendapat yang satu mengatakan bahwa tidak mungkin ada apapun yang secara absolut bisa mendefinisikan realita. Mereka percaya bahwa segala sesuatu itu bersifat relatif dan karena itu tidak ada realitas yang sejati. Karena itu, pada hakekatnya tidak ada otoritas apapun yang bisa menentukan suatu tindakan itu positif atau negatif, benar atau salah.
Sebaliknya, pandangan lain percaya realita atau standar absolut yang bisa menentukan apa yang benar dan tidak itu benar-benar ada. Satu tindakan dapat dikategorikan benar atau salah dengan membandingkannya terhadap standar-standar yang absolut itu. Dapatkah Saudara membayangkan kekacauan yang terjadi kalau tidak ada standar yang absolut ataupun realita?
Ambil contoh hukum gravitasi. Kalau yang absolut itu tidak ada, maka Saudara ketika berjalan bisa tahu-tahu terlempar tinggi ke udara pada satu waktu, tapi pada waktu lainnya bisa terbang melayang-layang. Tidak ada hukum-hukum sains ataupun hukum-hukum fisika sama sekali dalam dunia ini.
Segala sesuatu tidak ada artinya, karena tidak ada ukuran mengenai apapun; tidak ada benar dan salah. Betapa kacaunya kalau itu benar-benar terjadi. Tapi, syukurlah kebenaran yang absolut itu ada. Karena itu, ia dapat ditemukan dan dipahami. Tidak logis membuat pernyataan seperti itu karena pernyataan yang absolut justru dipakai untuk menolak fakta mengenai keberadaan yang absolut. Pada dasarnya, pernyataan yang menyatakan tidak adanya kebenaran absolut telah menjadi kebenaran absolut.
Ada beberapa masalah logis yang harus dijawab seseorang sebelum ia bisa menerima dan percaya kalau tidak ada kebenaran absolut/kebenaran universal.
                Masalah pertama terkait kontradiksi dengan dirinya sendiri. Hal ini dapat disimpulkan dari pertanyaan di atas. Mereka yang bersikeras tidak ada yang absolut, pada kenyataannya sudah percaya pada hal-hal yang absolut.  Mereka yakin secara mutlak bahwa tidak ada yang mutlak.  Filsafat semacam ini telah mengalahkan dirinya sendiri dan bertentangan dengan dirinya sendiri. Pernyataan bahwa tidak ada sesuatu apa pun yang absolut ini sama saja bertentangan dengan apa yang mereka yakini
                Masalah kedua dengan penolakan atas keberadaan absolut/kebenaran universal ini terkait fakta bahwa semua orang memiliki pengetahuan yang terbatas. Sebagai manusia dengan pengetahuan yang terbatas, kita tidak dapat secara logis membuat pernyataan negatif yang absolut.
                Masalah ketiga dengan penolakan atas keberadaan kebenaran absolut/kebenaran universal terkait fakta bahwa hal itu tidak sesuai dengan apa yang kita ketahui melalui hati nurani, pengalaman, dan apa yang kita lihat dalam “dunia yang nyata.” Kalau tidak ada kebenaran absolut, maka tidak ada yang betul-betul salah atau benar mengenai apapun. Apa yang mungkin “benar bagi Saudara” tidak berarti “benar bagi saya.” Secara sekilas, pemikiran relativisme semacam ini terdengar sangat menarik. Tapi, kalau ini diteruskan sampai tahap penarikan kesimpulan yang logis, akhirnya hanya akan terbukti menimbulkan kekacauan. Coba pertimbangkan kalau tidak ada kebenaran absolut dan segala sesuatu itu relatif (tidak ada standar apapun). Setiap orang akan menentukan peraturannya sendiri dan melakukan apa pun yang mereka anggap benar. Ini menimbulkan masalah ketika apa yang dipandang benar oleh seseorang bertentangan dengan apa yang dipandang benar oleh orang lain. Contohmua saya beranggapan bahwa mencuri dari Saudara itu baik, meskipun Saudara beranggapan itu tidak baik. Seseorang bisa saja memutuskan bahwa membunuh orang itu boleh-boleh saja, dan kemudian mulai berusaha membunuh semua orang yang mereka temui. Jika tidak ada standar yang absolut, ketika tidak ada kebenaran dan segala sesuatu bersifat relatif, maka membunuh semua orang itu sama benarnya dengan tidak membunuh semua orang. Mencuri sama benarnya dengan tidak mencuri. Kejam itu sama saja dengan tidak kejam. Betapa bahayanya akibat yang timbul dari penolakan atas keberadaan kebenaran absolut. Kalau tidak ada kebenaran absolut, maka tidak ada seorang pun yang boleh mengatakan, “Kamu harus melakukan ini” atau “Kamu tidak boleh melakukan itu.” Kalau tidak ada kebenaran absolut, bahkan pemerintah sendiri tidak dapat atau tidak boleh memaksakan peraturan pada masyarakat. Dapatkah Saudara melihat masalah yang akan terjadi? . Kekacauan akan terjadi ketika setiap orang melakukan apa yang benar menurut pandangannya sendiri. Jika tidak ada kebenaran mutlak, maka tidak ada standar benar atau salah yang harus dipertanggungjawabkan seseorang.  Kita tidak akan pernah merasa pasti mengenai apapun. Setiap orang bebas melakukan apa saja yang mereka inginkan – membunuh, memperkosa, mencuri, berbohong, menipu. Tidak ada seorang pun yang dapat mengatakan itu salah. Tidak akan ada pemerintah, hukum, dan keadilan, karena tidak ada seorang pun yang bisa mengatakan bahwa mayoritas berhak membuat dan memaksakan hukum kepada minoritas. Dunia tanpa kemutlakan merupakan dunia yang mengerikan. Zaman sekarang, kita sering mendengar kalimat, “Itu mungkin benar bagimu, tapi tidak untuk saya.” Bagi mereka yang berpandangan bahwa tidak ada kebenaran absolut, kebenaran dipandang tidak lebih dari sekedar pilihan pribadi atau sebuah sudut pandang saja.  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar