Di balik pensil kayu yang sering patah itu, kamu
bisa melihat sesuatu yang berharga asalkan kamu lebih peka. Pensil kayu itu
tadinya panjang, tapi lama kelamaan menjadi makin pendek setelah kamu gunakan
untuk menulis. Lama-lama pensilnya habis, dan kamu lempar dia ke tong sampah.
Tetapi lihatlah, serbuk-serbuk pensil kayu sudah menjelma jadi catatan di buku
tulismu.
Belajarlah berkorban seperti si pensil kayu. Tanpa
kamu sadari, pensil kayu itu yang membantumu menjadi lebih pandai dari hari ke
hari. Agar tak kalah dengan si pensil kayu, mulailah sedikit berkorban untuk
orang-orang yang kamu cintai. Jika belum punya materi yang memadai, waktu, ide
atau tenagamu juga bisa membuat mereka tersenyum bahagia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar