Etika agama menegaskan bahwa hubungan manusia dengan tuhan-Nya adalah hubungan antara ciptaan dengan penciptanya, hubungan antara makhluk dengan al-khalik. Pada dataran ini, manusia pada hakikatnya tidak mempunyai otoritas kekuasaan dan wewenang sedikitpun terhadap tuhan. Sekuat-kuatnya manusia untuk menentang tuhan hanyalah akan melahirkan kesia-siaan, bahkan kerugian besar, karena pada akhirnya manusia tetap tunduk dan patuh pada hokum-hukum Allah yang menghidupkan dan mematikannya. Manusia tidak pernah bisa menolak, menentang, dan melepaskan hukum-hukum itu.Secara individual manusia tidak pernah berkuasa untuk menolak kelahirannya, bahkan untuk memilih jenis kelamin, jalan rahim, tempat dan waktu kelahirannya, ia pun tidak sanggup, ia lahir tanpa ada dimintai persetujuannya terlebih dahulu, mau atau tidak. Demikianpula halnya dengan kematiannya, ia tidak pernah mampu merancangnya dengan tepat, kecuali Allah memang sudah menghendakinya untuk mati sesuai dengan jalan hidupnya, banyak orang yang bunuh diri gagaldan ada pula yang selamat, dan ada pula yang selamat dari kecelakaan, yang sulit di bayangkan bias selamat.
Posisi
manusia terhadap Allah adalah lemah, fakir, tidak berkuasa, tidak bias menolak
atau meniadakan Allah, mungkin saja ia tidak mengakui dan tidak mempercayai,
menolak bahkan mengingkari, tetapi bukan Allah sebenarnya yang ia tolak dan ia
ingkari, tetapi ilah atau Tuhan yang
ada dalam gambaran dan bayangan pikiran dan perasaannya, yaitu persepsi dan
penghayatannya terhadap tuhan yang salah, karena Tuhan yang ia tolak itu adalah
tuhan ciptaannya sendiri, Bukan Tuhan yang maha menciptakan termasuk
menciptsksn dirinya melalui mekanisme hokum-hukumNya. Karena Allah sama sekali
tidak tergantung dan tidak membutuhkan pengakuan dan persembahan dari manusia.
Jika Allah menurunkan wahyu melalui para Nabinya, dan menjelaskan hokum-hukum
kehidupan semuanya, itu semata-mata untuk kepentingan manusia sendiri, dan
merupakan wujud dan kasih saying atau Rahman Rahim-Nya kepada manusia, agar
manusia memperoleh keselamatan dan kebahagiaan. Pabrik mobil saja memberikan
petunjuk teknik dan pedoman peralatan bagi mobil yang di produksinya, apalagi
Allah yang maha bertanggung jawab.
Oleh
karena itu etika agama menetapkan keharusan manusia untuk tunduk dan patuh
kepada tuhannya, karena manusia di ciptakan Tuhan memang untuk berbakti dan
mengabdi kepada-Nya,melalui karya kreatifnya untuk kemanusiaan.
Jalan tunduk dan taat kepada Allah sebagai al khaliq pada hakikatnya adalah jalan
kodrat bagi semua ciptaan-Nya, suka atau tidak suka. Semua makhluk tunduk pada
hokum-hukum Tuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar