Hidup perlu memiliki keyakinan,
karena setiap sikap dan tindakan yang tegas selalu didorong oleh keyakinan
teguh yang mendasari hati dan pikiran secara penuh. Karena keyakinan, orang
akan berani menghadang ribuan lawan. Karena keyakinan, orang akan berani
menantang moncong meriam. Karena keyakinan, nabi-nabi terusir dari tanah
kelahiran sehingga namanya menjadi abadi, tetap dikenang dengan penuh khidmat
sepanjang sejarah.
Karena keyakinan pula, orang
menjadi tidak berani melakukan sesuatu yang kontradiksi. Misalnya, beranikah
kita meminum suatu minuman jika kita meyakini minuman itu dibubuhi racun?
Beranikah kita memasukkan tangan ke suatu lubang jika kita meyakini di dalam
lubang itu melingkar seekor ular berbisa? Atau, beranikah kita mengulurkan
tangan ke dalam api padahal kita meyakini api itu akan membakar tangan?
Akan tetapi, sebaliknya, tak
jarang pula orang menjadi celaka karena terkecoh oleh keyakinan yang tak
berdasar. Seseorang yang percaya dirinya akan menjadi sakti hanya dengan
membebatkan kain berisi jimat, tetap saja akan menemui ajal dengan tubuh remuk
jika ia meloncat dari menara tinggi walau berbekal jimatnya tadi. Seseorang
yang memercayai dirinya akan terlepas dari kesulitan hanya dengan mengucapkan
jampi-jampi dan mantra-mantra belaka, tetap saja tak akan keluar dari
kesulitannya hanya dengan komat-kamit mengucapkan mantra-mantranya.
Jadi, berhati-hatilah dengan
sebuah keyakinan. Milikilah keyakinan yang hakiki. Hindarilah
kepercayaan-kepercayaan palsu. Keyakinan tanpa ilmu (pengetahuan) yang hakiki
tak ada artinya.
Dalam perjalanan mencari
keyakinan hakiki, kita perlu menimba, mempelajari, serta menelusuri setiap
ilmu. Setidaknya, dari situ kita akan bisa mendapatkan sebuah keyakinan yang
berlandaskan logika. Yaitu, ibarat kita melihat asap, dengan pengetahuan yang
telah kita miliki kita akan meyakini bahwa di sana pasti ada api.
Namun, dengan hanya memiliki
keyakinan yang baru dilandasi logika saja terkadang dapat membuat hati kita
masih dihinggapi perasaan waswas. Sebagaimana ketika kita melihat asap, mungkin
saja perasaan kita masih diliputi keraguan, jangan-jangan bukan api yang ada di
sana itu, melainkan uap air. Oleh karena itu, untuk mendapatkan kepastian yang
lebih teguh tentang keyakinan yang kita miliki, jangan berhenti hanya sampai di
situ. Teruskan melangkah untuk mencari, sehingga keyakinan kita bukan lagi
hanya didasari oleh sebatas logika saja, melainkan telah berdasarkan kesaksian
yang kita lihat sendiri. Seakan kita melangkah lebih mendekat untuk lebih
memastikan asap tadi, hingga kita bisa melihat api. Maka setelah kita melihat
api, keyakinan pun akan semakin tebal dari pada hanya sekadar melihat asapnya
saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar