Semua orang terutama anak perempuan pasti tahu dan pernah memainkan permainan
tradisional yang di bernama congklak
Untuk bermain congklak ini, diperlukan dua orang
pemain, sebuah papan congklak (bisa terbuat dari kayu atau plastik), dan biji
congklak (bisa dari biji kenitu atau biji kopi mentah). Pada papan congklak
tersebut, terdapat 7 lubang pada masing-masing sisi. Dan, di sebelah kiri dan
kanan, ada satu lubang besar yang disebut “induk”.
Cara bermainnya adalah pertama-tama, dengan mengisi
masing-masing 7 lubang dengan 7 biji. Kemudian, pemain yang sudah diundi
memainkannya dengan mengambil biji di salah satu lubang dan “menabung” nya satu
per satu ke dalam lubang selanjutnya, termasuk lubang induk milik kita. Namun,
biji tersebut tidak boleh mengisi lubang induk milik kawan.
Ketika biji terakhir jatuh di lubang yang terdapat biji-bijian lain maka bijian tersebut diambil lagi untuk diteruskan mengisi lubang-lubang selanjutnya. Begitu seterusnya sampai biji terakhir jatuh kelubang yang kosong. Jika biji terakhir tadi jatuh pada lubang yang kosong maka giliran pemain lawan yang melakukan permainan. Permainan ini berakhir jika biji-bijian yang terdapat di lubang yang kecil telah habis dikumpulkan.
Pemenangnya adalah anak yang paling banyak mengumpulkan biji-bijian ke lubang induk miliknya.
Ketika biji terakhir jatuh di lubang yang terdapat biji-bijian lain maka bijian tersebut diambil lagi untuk diteruskan mengisi lubang-lubang selanjutnya. Begitu seterusnya sampai biji terakhir jatuh kelubang yang kosong. Jika biji terakhir tadi jatuh pada lubang yang kosong maka giliran pemain lawan yang melakukan permainan. Permainan ini berakhir jika biji-bijian yang terdapat di lubang yang kecil telah habis dikumpulkan.
Pemenangnya adalah anak yang paling banyak mengumpulkan biji-bijian ke lubang induk miliknya.
Kawan, taukah ?
Ada sebuah filosofi sederhana namun sarat makna
dari permainan congklak ini.
Masih ingat berapa jumlah lubang kecil di
masing-masing sisi?
Ada 7 lubang dan masing-masing berisi 7 biji.
7 adalah jumlah hari dalam satu minggu. Jumlah biji yang ada pada lubang kecilpun sama. Artinya, tiap orang mempunyai jatah waktu yang sama dalam seminggu, yaitu 7 hari.
7 adalah jumlah hari dalam satu minggu. Jumlah biji yang ada pada lubang kecilpun sama. Artinya, tiap orang mempunyai jatah waktu yang sama dalam seminggu, yaitu 7 hari.
Ketika biji diambil dari satu lubang, ia mengisi
lubang yang lain, termasuk lubang induknya. Pelajaran dari fase ini adalah,
tiap hari yang kita jalani, akan mempengaruhi hari-hari kita selanjutnya, dan
juga hari-hari orang lain. Apa yang kita lakukan hari ini menentukan apa yang
akan terjadi pada masa depan kita. Apa yang kita lakukan hari ini bisa jadi
sangat bermakna pula bagi orang lain.
Biji diambil, kemudian diambil lagi, juga berarti
bahwa hidup itu harus memberi dan menerima. Tidak bisa mengambil terus, kalau tidak
memberi.
Biji diambil satu persatu, tidak boleh semua
sekaligus. Maksudnya, kita harus jujur untuk mengisi lubang kita. Kita harus
jujur mengisi hidup kita. Satu persatu, sedikit demi sedikit, asalkan jujur dan
baik, lebih baik daripada banyak namun tidak jujur. Satu persatu biji yang
diisi juga bermakna bahwa kita harus menabung tiap hari untuk hari-hari
berikutnya. Kita juga harus mempunyai “simpanan/tabungan”, yaitu biji yang
berada di lubang induk.
Strategi diperlukan dalam permainan ini agar biji
kita tidak habis diambil lawan. Hikmahnya adalah, hidup ini adalah persaingan,
namun bukan berarti kita harus bermusuhan. Karena tiap orang juga punya
kepentingan dan tujuan yang (mungkin) sama dengan tujuan kita, maka kita harus
cerdik dan strategis.
Pemenang adalah yang jumlah bijinya di lubang induk
paling banyak, maksudnya adalah mereka yang menjadi pemenang/ mereka yang
sukses adalah mereka yang paling banyak amal kebaikannya. Mereka yang banyak
tabungan kebaikannya, mereka yang menabung lebih banyak, dan mereka yang tahu
strategi untuk mengumpulkan rezeki.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar