Kamis, 22 Desember 2016

FILOSOFI DIBALIK PERMAINAN CONGKLAK



Semua orang terutama anak perempuan  pasti tahu dan pernah memainkan permainan tradisional yang di bernama congklak
Untuk bermain congklak ini, diperlukan dua orang pemain, sebuah papan congklak (bisa terbuat dari kayu atau plastik), dan biji congklak (bisa dari biji kenitu atau biji kopi mentah). Pada papan congklak tersebut, terdapat 7 lubang pada masing-masing sisi. Dan, di sebelah kiri dan kanan, ada satu lubang besar yang disebut “induk”.
Cara bermainnya adalah pertama-tama, dengan mengisi masing-masing 7 lubang dengan 7 biji. Kemudian, pemain yang sudah diundi memainkannya dengan mengambil biji di salah satu lubang dan “menabung” nya satu per satu ke dalam lubang selanjutnya, termasuk lubang induk milik kita. Namun, biji tersebut tidak boleh mengisi lubang induk milik kawan.
Ketika biji terakhir jatuh di lubang yang terdapat biji-bijian lain maka bijian tersebut diambil lagi untuk diteruskan mengisi lubang-lubang selanjutnya. Begitu seterusnya sampai biji terakhir jatuh kelubang yang kosong. Jika biji terakhir tadi jatuh pada lubang yang kosong maka giliran pemain lawan yang melakukan permainan. Permainan ini berakhir jika biji-bijian yang terdapat di lubang yang kecil telah habis dikumpulkan.
Pemenangnya adalah anak yang paling banyak mengumpulkan biji-bijian ke lubang induk miliknya.
Kawan, taukah ?
Ada sebuah filosofi sederhana namun sarat makna dari permainan congklak ini.
Masih ingat berapa jumlah lubang kecil di masing-masing sisi?
Ada 7 lubang dan masing-masing berisi 7 biji.
7 adalah jumlah hari dalam satu minggu. Jumlah biji yang ada pada lubang kecilpun sama. Artinya, tiap orang mempunyai jatah waktu yang sama dalam seminggu, yaitu 7 hari.
Ketika biji diambil dari satu lubang, ia mengisi lubang yang lain, termasuk lubang induknya. Pelajaran dari fase ini adalah, tiap hari yang kita jalani, akan mempengaruhi hari-hari kita selanjutnya, dan juga hari-hari orang lain. Apa yang kita lakukan hari ini menentukan apa yang akan terjadi pada masa depan kita. Apa yang kita lakukan hari ini bisa jadi sangat bermakna pula bagi orang lain.
Biji diambil, kemudian diambil lagi, juga berarti bahwa hidup itu harus memberi dan menerima. Tidak bisa mengambil terus, kalau tidak memberi.
Biji diambil satu persatu, tidak boleh semua sekaligus. Maksudnya, kita harus jujur untuk mengisi lubang kita. Kita harus jujur mengisi hidup kita. Satu persatu, sedikit demi sedikit, asalkan jujur dan baik, lebih baik daripada banyak namun tidak jujur. Satu persatu biji yang diisi juga bermakna bahwa kita harus menabung tiap hari untuk hari-hari berikutnya. Kita juga harus mempunyai “simpanan/tabungan”, yaitu biji yang berada di lubang induk.
Strategi diperlukan dalam permainan ini agar biji kita tidak habis diambil lawan. Hikmahnya adalah, hidup ini adalah persaingan, namun bukan berarti kita harus bermusuhan. Karena tiap orang juga punya kepentingan dan tujuan yang (mungkin) sama dengan tujuan kita, maka kita harus cerdik dan strategis.
Pemenang adalah yang jumlah bijinya di lubang induk paling banyak, maksudnya adalah mereka yang menjadi pemenang/ mereka yang sukses adalah mereka yang paling banyak amal kebaikannya. Mereka yang banyak tabungan kebaikannya, mereka yang menabung lebih banyak, dan mereka yang tahu strategi untuk mengumpulkan rezeki.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar