Dunia
filsafat telah lama hilang dari kaum Muslimin, kecuali di kalangan Syi’ah.
Kini, umat Islam perlu menghidupkan kembali tradisi filsafat.
Persoalan-persoalan duni terlampau sederhana jika hanya dihadapi secara praktis
minus pikiran besar. Adakah kaum Muslimin siap dan dari mana mulai belajar
filsafat?. Bagi pemeluk agama Islam, kadang ada keraguan untuk
mempelajari filsafat, seolah-olah, kalau sudah mempelajari filsafat, maka aspek
keimanan akan semakin berkurang. Bahkan konon ada mahasiswa yang setelah
belajar filsafat malah tidak mau lagi shalat. Padahl banyak mahasiswa yang
tidak shalat bukan karena mendalami filsafat. Kalaupun ada fenomena seperti
mahasiswa tadi, frekwensinya relatif kecil. Ibarat belajar renang, mendalami
filsafat butuh pembiasaan dan waktu yang relatif lama. Bila sudah mahir maka
tidak ada lagi persoalan. Secara akademis, berfilsafat berarti mencoba berfikir
secara lebih radikal (mendalam) dalam memahami sesuatu. Dalam tradisi filsafat
Barat, masalah ketuhanan pun perlu dikaji secara filosofis. Dalam Islam Mungkin
tidak sejauh memahami tentang zat Tuhan, tetapi sekadar eksistensi Tuhan di
alam ini. Seperti sabda Nami, tafakaru fi khalqillah wal tafakaru fil khaliq
(pikirkanlah semua ciptaan Allah, dan jagan memikirkan tentang zat Allah).
Namun tentang keberadaan Allah dikatikan dengan keberadaan alam ini. Selain
radikal, mendalami filsafat juga bersifat universal (lintas batas, serba
melampaui) dan sistematis. Dan yang menjadi fokus dalam studi filsafat, secara
klasik, mengkaji tentang Tuhan, alam, dan manusia. Dalam perkembangan filsafat
kontemporer, juga mendalami soal-soal sosial-budaya, bahasa (philosophy of
language), ekonomi, politik (political philosophy), hukum, dan lain-lain.
Secara metodologis, filsafat mengkaji tentang ontologi ( hakekat sesuatu),
epistemologi (cara-cara yang digunakan dalam mengkaji hakekat sesuatu), dan
aksiologi (masalah filsafat nilai, tentang baik buruk, atau meliputi wilayah
etika). Dalam studi filsafat Islam, paling tidak dikenal tiga aliran; yakni
aliran rasional (peripatetik, masyaiyyah); aliran empiris (tajribiyyah); dan
aliran intuitif (isyrakiyyah, laduniyyah). Di Barat umumnya hanya dua aliran,
empiris dan rasional. Namun para era posmodernisme saat ini, dunia Barat mulai
meranbah wilayah intuitif. Akhirnya, perlu dimaklumi bahwa berfilsafat bukanlah
segala-galanya. Karena filsafat ada batasnya, dimana rasio sebagai alat
filsafat memang amat terbatas. Filsafat bukanlah satu-satunya jalan kebenaran,
di hanya salah satu cara untu mencari kebenaran, di samping ada jalan lain
yakni jalan empiris dan intuitif. Berfilsafat berarti lebih mendayagunakan otak
kiri (berfikir liner, rasional, sistematik), maka perlu diimbangi dengan upaya
fungsionalisasi otak kanan (berfikir sirkular, imajinatif, intuitif). Berfikir
dan beribadah (menjalankan anjuran-anjuran agama) menikmati seni, karya seni
dan sebagainya akan lebih dapat menyeimbangkan kehidupan manusi dalam
menjalankan aktivitas kesehariannya di dunia ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar