Rampak Bedug berasal dari kata Rampak atau kompak yang
berarti sama, gerakannya sama, pukulannya sama. Asal muasal rampak bedug ini
yaitu pada jaman dahulu ketika masyarakat kampung akan menunaikan ibadah
sholat, sebelum adzan salah seorang dari mereka memukul-mukulkan media yang
bunyinya nyaring dan keras misalnya kentongan sebagai tanda waktu sholat tiba.
Namun ternyata bunyi kentongan ini sering disalah tafsirkan oleh masyarakat
setempat, karena bunyi kentongan ini bisa juga diartikan adanya maling yang
masuk ke kampung. Supaya bisa membedakannya maka diciptakanlah bunyi yang
suaranya tidak menyerupai kentongan namun masih nyaring dan keras yaitu bedug.
Lambat laun, ternyata masyarakat kampung sangat gemar sekali dengan suara dan pukulan
bedug ini, mereka silih berganti menabuh bedug ketika waktu sholat tiba.
Melihat hal tersebut akhirnya mereka mencetuskan suatu ide seni menabuh bedug
dengan banyak orang yaitu rampak bedug, yang kala itu bernama bedug panjang,
bedug yang disusun memanjang yang jumlahnya bisa 20 buah bedug. Jadi “Rampak
Bedug” adalah seni bedug dengan menggunakan waditra berupa “banyak” bedug dan
ditabuh secara “serempak” sehingga menghasilkan irama khas yang enak didengar.
Waditra adalah seni atau kesenian dari budaya jawa. Waditra rampak bedug
terdiri dari : bedug besar, berfungsi sebagai bass yang memberikan rasa puas
ketika mengakhiri suatu bait sya’ir dari lagu. Ting tir, terbuat dari batang
pohon kelapa, berfungsi sebagai penyelaras irama lagu bernuansa spiritualis
(takbiran, shalawatan, marhabaan, dan lain-lain). Anting Caram dan Anting Karam
terbuat dari pohon jambu dan dililiti kulit kendang berfungsi sebagai pengiring
lagu dan tari. Akan tetapi rampak bedug hanya terdapat di daerah Banten sebagai
ciri khas seni budaya Banten.
Di masa lalu pemain rampak bedug terdiri dari semuanya laki-laki. Tapi sekarang sama halnya dengan banyak seni lainnya terdiri dari laki-laki dan perempuan. Mungkin demikian karena seni rampak bedug mempertunjukkan tarian-tarian yang terlihat indah jika ditampilkan oleh perempuan (selain tentunya laki-laki). Jumlah pemain sekitar 10 orang, laki-laki 5 orang dan perempuan 5 orang. Adapun fungsi masing-masing pemain adalah sebagai berikut : pemain laki-laki sebagai penabuh bedug dan sekaligus kendang sedangkan pemain perempuan sebagai penabuh bedug, baik pemain laki-laki maupun perempuan sekaligus juga sebagai penari.
Di masa lalu pemain rampak bedug terdiri dari semuanya laki-laki. Tapi sekarang sama halnya dengan banyak seni lainnya terdiri dari laki-laki dan perempuan. Mungkin demikian karena seni rampak bedug mempertunjukkan tarian-tarian yang terlihat indah jika ditampilkan oleh perempuan (selain tentunya laki-laki). Jumlah pemain sekitar 10 orang, laki-laki 5 orang dan perempuan 5 orang. Adapun fungsi masing-masing pemain adalah sebagai berikut : pemain laki-laki sebagai penabuh bedug dan sekaligus kendang sedangkan pemain perempuan sebagai penabuh bedug, baik pemain laki-laki maupun perempuan sekaligus juga sebagai penari.
Busana yang dipakai oleh pemain rampak bedug adalah pakaian
Muslim dan Muslimah yang disesuaikan dengan perkembangan zaman dan unsur
kedaerahan. Pemain laki-laki misalnya mengenakan pakaian model pesilat lengkap
dengan sorban khas Banten, tapi warna-warninya menggambarkan kemoderenan:
hijau, ungu, merah, dan lain-lain (bukan hitam atau putih saja). Adapun pemain
perempuan mengenakan pakaian khas tari-tari tradisional, tapi bercorak
kemoderenan dan relatif religius. Misalnya menggunakan rok panjang bawah lutut
dari bahan batik dengan warna dasar kuning dan di dalamnya mengenakan celana
panjang warna merah jenis celana panjang pesilat. Di luarnya mengenakan kain
merah tanpa dijahit yang bisa dililitkan dan digunakakan untuk semacam tarian
selendang. Bajunya tangan panjang yang dikeluarkan dan diikat dengan memakai
ikat pinggang besar. Adapun rambutnya mengenakan sejenis sanggul bungan yang
terbuat dari rajutan benang semacam penutup kepala bagian belakang.
Fungsi Rampak bedug : 1. Nilai Religi, yakni menyemarakan
bulan suci Ramadhan dengan alat-alat yang memang dirancang para ulama pewaris
Nabi. Selain menyemarakan Tarawihan juga sebagai pengiring Takbiran dan
Marhabaan. 2. Nilai rekreasi/hiburan. 3. Nilai ekonomis, yakni suatu karya seni
yang layak jual. Masyarakat pengguna sudah biasa mengundang seniman rampak
bedug untuk memeriahkan acara-acara mereka.
sumber : travelmatekamu.com/thepresidentpost.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar