Kamis, 22 Desember 2016

Falsafah Hidup Orang Minang

Hakekat dari rumah gadang, baik dari gaya seni bina, pembinaan, hiasan bagian dalam dan luar dan fungsi rumah merupakan aktualisasi falsafah hidup orang Minangkabau (alam takambang jadi guru). Rumah Gadang, boleh dikatakang sedikit tergilas dengan rumah bergaya arsi­tektur mo­dern baik dari bentuk dan fungsinya. Namun demikian tak bisa mena­fikan di beberapa daerah yang masih kental adat dan budaya, masih melestarikan dan memfungsikan Rumah Gadang dalam kehidupannya de­ngan baik.
Adapula yang masih terawat dengan baik dan berdiri dengan megahnya. Deretan Rumah Gadang tersebut dapat dijumpai di Kabupaten Solok Selatan yang dijuluki dengan “Seribu Rumah Gadang”. Sedangkan jejeran Rumah Gadang lainnya ada di Kota Solok dan Kabupaten Solok, Kabupaten Dharmasraya dan beberapa daerah lainnya di Propinsi Sumatera Barat.
Bila ditilik dari filosofinya, Rumah Gadang dikatakan gadang (besar) bukan karena bentuknya yang besar saja. Melainkan ditinjau dari fungsi juga sangat besar. Ini tertuang dalam ungkapan yang sering kita dengar dari tetua-tetua adat membicarakan masalah Rumah Gadang tersebut. Rumah Gadang basa batuah, Tiang banamo kato hakikat, Pintunyo banamo dalil kiasan, Banduanyo sambah-manyambah, Bajanjang naik batanggo turun, Dindiangnyo panutuik malu, Biliak­nyo aluang bunian
Dari ungkapan tersebut dapat dipahami bahwa fung­si Rumah Gadang, me­lingkupi bagian keseluruhan ke­hi­dupan keseharian orang Minangkabau. Baik sebagai tem­pat kediaman keluarga dan me­rawat ke­luarga. Termasuk pula sebagai pusat melaksa­na­kan ber­bagai upacara, sebagai tem­pat ting­gal bersama keluarga. Bahkan di­atur pula tempat perempuan yang sudah berkeluarga dan yang be­lum. Rumah Gadang memiliki fungsi sebagai tempat ber­mufakat. Ru­mah Gadang juga merupa­kan ba­ngun­an pusat dari seluruh ang­gota ka­um dalam membicarakan berbagai hal dalam se­buah suku, kaum maupun nagari.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar