Dikatakan, pasangan terbaik itu seperti sepasang
sepatu. Mengapa? Karena bentuknya tidak sama persis namun serasi. Pria dan
wanita diciptakan oleh Tuhan dengan berbeda, namun keduanya serasi dan saling
melengkapi.
Saat berjalan tidak pernah kompak, tapi satu
tujuan. Saat berjalan, kaki kiri dan kaki kanan tidak pernah berbarengan,
selalu ada yang di depan atau di belakang. Namun tujuannya selalu sama atau
searah. Inilah pentingnya tujuan bersama dalam rumah tangga, yaitu untuk
membangun keluarga yang bahagia.
Sepatu itu tidak pernah berganti posisi, namun
saling melengkapi. Sepatu kiri tidak pernah bisa dipakai oleh kaki kanan,
demikian juga sebaliknya. Demikian juga dalam hirarki rumah tangga. Pria adalah
seorang imam atau pemimpin. Kalau fungsi ini berubah, bila istri menjadi
pemimpin, kehidupan rumah tangga bisa berantakan.
Sementara, wanita adalah penolong. Istri diberi
gugas menjadi penolong bagi suaminya. Dalam banyak hal, si penolong lebih kuat
daripada yang ditolong. Tugas ini dijalankan oleh sang isteri dengan cara
memberi nasihat dengan cara yang tepat, pada waktu yang tepat, dan dengan sikap
yang tepat, serta bila dibutuhkan.
Meskipun berbeda, sepatu kiri sama derajat dan
harganya dengan sepatu kanan. Inilah kesetaraan pria dan wanita dalam berumah
tangga. Pria dan wanita setara karena diciptakan oleh Tuhan sesuai gambarnya.
Mereka setara, hanya saja berbeda fungsinya.
Sepatu, bila yang satu hilang, maka yang lain tak
memiliki arti. Pasangan suami-isteri adalah pasangan sehidup semati. Oleh sebab
itu janji pernikahan diucapkan sebagai hidup bersama sampai maut memisahkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar